Jenis Makanan yang Dihindari Saat Memulai MPASI

Saat baru mengenal makanan padat, jenis makanan si kecil perlu dipilih agar tidak membuatnya sakit.

Bayi dapat diperkenalkan pada makanan keluarga, tetapi karena ia baru mulai mengenal makanan padat, selain kelunakan makanan, kita sebaiknya tidak memberikan beberapa jenis makanan ini pada si kecil:

  • Makanan berlemak. Jenis makanan ini sulit dicerna di dalam tubuh bayi, karena enzim lipase, enzim pencerna lemak, dalam usus bayi masih terbatas. Makanan berlemak dapat membuat bayi kembung dan diare.
  • Telur mentah atau setengah matang. Bayi yang diberi telur yang tidak matang berisiko mengalami keracunan akibat bakteri Salmonella. Selain itu, telur mentah mengandung antitripsin, sehingga protein telur tidak dapat dicerna di dalam usus.
  • Madu. Bayi yang sensitif atau belum sempurna sistem kekebalan tubuhnya dapat mengalami diare, kembung atau kolik setelah diberi madu, terlebih jenis madu asli atau belum dimurnikan. Namun alasan utama madu tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 12 bulan adalah karena cairan manis ini mengandung bakteri Clostridium botulinum. Keracunan akibat bakteri ini dapat berakibat fatal.
  • Kacang utuh. Kacang, khususnya kacang tanah, dan produk olahannya dapat diberikan pada bayi sejak usia 6 bulan jika dia tidak memiliki riwayat alergi di dalam keluarganya. Namun hindari memberi kacang-kacangan atau biji-bijian dalam keadaan utuh pada anak di bawah usia lima tahun, karena ada risiko tersedak.
  • Garam dan produk yang mengandung garam (kaldu blok, penyedap rasa atau kecap asin).  Pemberian garam pada makanan bayi dapat  memaksa ginjal bayi yang belum berkembang dan berfungsi sempurna untuk bekerja keras. Garam sebaiknya baru ditambahkan pada makanan bayi yang telah berusia 8 bulan lebih, dan jumlahnya dibatasi (1/4 sendok teh).  
  • Gula dan pemanis buatan. Gula yang dimaksud adalah gula olahan, seperti gula pasir, gula merah dan sirup. Terlalu banyak konsumsi gula atau makanan yang manis-manis akan menyebabkan gangguan selera makan makanan yang lebih bergizi. Sementara penggunaan pemanis buatan tentu akan berdampak tidak baik bagi kesehatan ginjal bayi.
  • Makanan yang mengandung nitrat. Nitrat adalah senyawa alami dalam tumbuhan, khususnya sayuran. Nitrat akan dikonversi dalam 1-2 hari menjadi nitrit yang dapat bereaksi dengan hemoglobin untuk membentuk methemoglobin yang tidak bisa mengikat oksigen. Untuk itu, sayuran seperti wortel, bit, bayam, dan sawi hijau, tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan.
  • Makanan yang mengandung gluten. Gluten adalah protein yang terdapat di dalam gandum, rye, barley dan oat/havermut, termasuk produk olahannya seperti roti, kue, biskuit dan aneka pasta. Gluten tidak dianjurkan untuk diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan, atau bayi yang tidak mampu mencerna gluten (intoleransi gluten). Pemberian gluten cenderung memicu kembung, mual dan diare. Namun gejala ini akan hilang seiring pertambahan usia anak.
  • Susu sapi (whole milk, susu segar).  Tidak boleh diberikan kepada bayi di bawah usia 12 bulan sebagai minuman, karena kandungan zat besi rendah, tinggi kadar natrium, kalium dan klorida, seluruh unsur tersebut dapat membebani ginjal bayi. Selain itu, susu sapi juga mengandung protein yang  berisiko memicu alergi pada sebagian bayi, yaitu beta lakto globulin. Gejala alerginya dapat berupa diare, muntah, eksim atau ruam kulit.

Artikel Terkait

ARTIKEL TERBARU

Ketika Harus Memberi ASI Perah

Komitmen ibu memberikan nutrisi terbaik bagi bayi, yaitu ASI eksklusif, dapat tetap dilakukan saat ibu harus kembali bekerja. ASI perah solusi tepat.

Berapa Lama ASI Perah Dapat Digunakan?

ASI perah memiliki tenggang waktu untuk digunakan, tergantung pada cara penyimpanannya.

Manajemen ASI Perah

ASI perah yang disimpan sebaiknya diberi label tanggal ASI diperah, agar dapat digunakan lebih dulu.