ASI & Imunisasi

Para orang tua, khususnya ibu, sangat ingin tahu soal imunisasi untuk anak-anak mereka. Mereka menyempatkan diri hadir ke acara Parenting Class di Auditorium Lantai 8 RSU Bunda Menteng, Jakarta, pada tanggal 21 Maret 2013. Acara yang bertema “ASI dan Imunisasi” menghadirkan dr. Ayu Partiwi, SpA, MARS dan dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) sebagai pembicara. Berbagai pertanyaan seputar ASI dan imunisasi pun terjawab tuntas di acara ini.

ASI untuk kekebalan tubuh

Manusia dibekali sistem kekebalan ketika dilahirkan. Sistem kekebalan ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari lingkungan yang berubah. Pada umumnya, sistem imun ini dibagi menjadi 2, yaitu sistem kekebalan spesifik dan non-spesifik.

Sistem kekebalan sistem yang non-spesifik (innate immunity) sifatnya bawaan, bekerjanya otomatis,tidak spesifik terhadap penyakit tertentu, dan tidak memiliki memori.Sementara kekebalan spesifik (adaptive immunity) proses bekerjanya perlu waktu, spesifik terhadap penyakit tertentu, dan punya memori imunologik.

“Meletakkan bayi di atas tubuh ibu saat inisiasi menyusu dini (IMD) atau paparan mulut bayi pada kulit ibu, merupakan salah satu cara mengambil kuman baik di kulit ibu yang berguna menciptakan kekebalan alamiah, yang akan membuat sistem kekebalan terangsang,” ujar dr. Tiwi.

Kekebalan tubuh bayi yang rentan di awal kelahiran diimbangi dengan komposisi kolostrum ASI yang sarat antibodi. Organ lambung yang pada bayi baru lahir berukuran kecil juga diimbangi dengan jumlah kolostrum yang sedikit tapi sarat dengan antibodi, antara lain makrofag, IgAs, lisozim, dan lain-lain.

Tabel: Kolostrum untuk Kekebalan Tubuh Bayi

Kandungan

Kegunaan

Penuh antibodi Imunoglobulin A (IgAs)

Melindungi tubuh terhadap alergi dan infeksi.

Sel-sel darah putih (makrofag, neutrofil)

Melindungi tubuh terhadap infeksi.

Purgative/pencahar

Membersihkan mekonium, mencegah kuning pada bayi.

Growth factors

Mempercepat matang usus, mencegah alergi dan intoleransi.

Tinggi kandungan vitamin A

Menurunkan beratnya infeksi.

Bagimana ASI memberikan kekebalan alamiah salah satu yang dapat menjelaskan adalah bila ibu sakit, misalnya flu, maka antibodi flu yang diroduksi ibuakan dikeluarkan melalui ASI. Kalau begitu, apakah bayi ASI tidak perlu imunisasi karena sudah mendapat kekebalan dari ASI? “Zat kekebalan ASI sifatnya umum, tidak spesifik. Artinya tidak untuk mencegah penyakit tertentu seperti campak atau meningitis. Nah, pemberian imunisasi diperlukan untuk penyakit spesifik dan memberi perlindungan untuk jangka panjang. Jadi, bayi ASI tetap perlu diimunisasi. Bahkan penelitian menunjukkan, respons kekebalan tubuh pemberian vaksin pada bayi ASI lebih baik daripada bayi susu formula,” jelas dr. Tiwi.

Galau imunisasi

“Sebenarnya saya adalah dokter spesialis anak konsultan jantung anak. Namun, karena saya melihat imunisasi akhir-akhir ini sering diperlakukan kurang adil maka saya menekuni juga imunisasi,” ujar dr. Piprim di awal presentasi. Lebih lanjut, dengan penjelasan yang mudah dipahami orang tua, dr. Piprim memaparkan peran imunisasi bagi kesehatan seseorang, khususnya anak, yang berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat. “Bila dalam satu kelompok msyarakat lebih banyak orang yang tidak diimunisasi, meski banyak yang sehat, namun bila terjadi kasus penyakit, apalagi menular, maka akan terjadi endemi yang bisa jadi mengakibatkan tingginya angka kecacatan dan kematian. Jadi, bukan hanya anak kita yang jadi korbannya, tetapi juga masyarakat di sekitar kita, bahkan bisa menjaar ke belahan bumi yang lain,” jelas dr. Piprim sambil memberi berbagai contoh kasus yang pernah terjadi.

Dua isyu sensitif yang banyak beredar di masyarakat sekarang soal imuniasasi adalah masalah keamanan dan kehalalan vaksin. Perihal keamanan, menurut dr. Piprim, imunisasi boleh dikatakan sebagai ‘asuransi’ kesehatan, “Berdasarkan manfaat dan risikonya, imunisasi jauh lebih banyak manfaatnya daripada risikonya. Jadi, tidak ada alasan mengatakan bahwa imunisasi tidak aman.”

Isyu soal imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella) dapat menyebabkan anak menderita autistik pada kesempatan ini  juga dibahas dr. Piprim. “Informasi ini tidak betul! Penelitian yang dilakukan dr. Andrew Wakefield yang menyimpulkan vaksin MMR menyebabkan autistik telah dibatalkan karena terbukti banyak data yang tidak benar.” Padahal, dampak penyakit rubella yang diderita ibu hamil, misalnya,bisa membuat bayi yang dilahirkan menderita katarak, tuli, otak mengecil dan jantung bocor.

Bagaimana dengan kehalalan vaksin yang selama ini diragukan? “Tinjauan syari’ah vaksinasi dapat dilihat dari 3 konsep penting, yaitu istihalah (transformasi zat), istihlak (pengenceran) dan darurat,” jelas dr. Piprim yang kemudian memaparkan setiap konsep secara gamblang dan mudah dipahami, sehingga para peserta Parenting Class pun yakin dan tidak galau lagi bahwa imunisasi aman dan diperbolehkan dari sudut agama Islam. “Bahkan tidak satu pun ulama internasional yang menolak vaksinasi di negaranya,” sambung dr. Piprim yang juga mendirikan Rumah Vaksinasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap harga vaksinasi yang terjangkau.

Artikel Terkait

ARTIKEL TERBARU

Ketika Harus Memberi ASI Perah

Komitmen ibu memberikan nutrisi terbaik bagi bayi, yaitu ASI eksklusif, dapat tetap dilakukan saat ibu harus kembali bekerja. ASI perah solusi tepat.

Berapa Lama ASI Perah Dapat Digunakan?

ASI perah memiliki tenggang waktu untuk digunakan, tergantung pada cara penyimpanannya.

Manajemen ASI Perah

ASI perah yang disimpan sebaiknya diberi label tanggal ASI diperah, agar dapat digunakan lebih dulu.