Bila Dokter Anak Bicara Soal ASI. Seru!

 

Hal ini terbukti dari banyaknya Dokter Spesialis Anak yang mengikuti dan berkomentar positif dalam workshop ASI tentang “Apa yang Perlu Diketahui Dokter tentang Menyusui” dan scientific programme: breastfeeding pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak ke-5 Ikatan Dokter Anak Indonesia (PIT IKA V IDAI) di Bandung, 13 – 17 Oktober 2012. Acara yang bertema “The Holistic Approach on Childrens Critical Illnesses to Maintain Their Quality of Life” ini dihadiri sekitar 3300 peserta.

Para pembicara dan moderator scientific programme breasfeeding pada Petemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak V di Bandung (kiri ke kanan): dr. Ahmad Suryawan, SpA, dr. I.G.A.N Partiwi, SpA, MARS, Prof. dr. Soetjiningsih, SpAK,IBCLC  dr. Yovita Ananta, SpA, IBCLC dan dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpAK.

Antusiasme peserta workshop

Workshop breasfeeding hari pertama digelar tanggal 13 Oktober 2012, dibuka dengan pretest yang telah disiapkan oleh dr. Eveline, SpA, IBCLC dan dr. Yovita Ananta, SpA, IBCLC yang terdiri dari 15 soal. Bahan-bahan bacaan pretest seminggu sebelumnya telah dikirim ke seluruh peserta. ASI dan permasalahnya adalah hal yang sehari-hari dihadapi para dokter anak. Karena itu, workshop yang pesertanya dibatasi hanya 40 orang ini, lebih banyak diberikan dalam bentuk diskusi kasus-kasus yang sehari-hari dihadapi para dokter anak. Workshop ASI kali ini bekerja sama dengan Unit Kerja Koordinasi (UKK) IDAI: Perinatologi, Endokrinologi, Infeksi dan penyakit tropis, serta Nutrisi dan penyakit metabolik.

Topik pertama yang dibahas Dr. dr. Rinawati Rohsiswanto, SpAK, dr. Andi Nanis Sacharina Marzuki, SpAK, IBCLC dan dr. I.G.A.N Partiwi, SpA, MARS, adalah tentang tiga alasan yang paling umum untuk menghentikan menyusui, yaitu hiperbilirubinemia, hipoglikemia, dan dehidrasi. Ketiganya bersumber dari belum maksimalnya ibu menyusui bayinya sehingga bayi hanya mengonsumsi sedikit makanan.

Pembicara kedua adalah dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA, IBCLC dan dibantu oleh dr. Andi nanis Sacharina, SpAK, IBCLC yang membahas tentang penyakit ibu dan pengaruh obat-obatan pada menyusui. Banyak kekuatiran para dokter anak bila menemui ibu menyusui yang kadang-kadang tidak luput dari berbagai penyakit yang umum terjadi di masyarakat, seperti hepatitis B, hepatitis C, tuberkulosis, demam typhoid, bahkan HIV/AIDS. Pada sesi ini banyak dibahas tentang mana obat-obatan yang perlu mendapat perhatian dan mana obat yang aman.

Di akhir workshop hari pertama yang dipandu course director dr. Andi Nanis, SpAK, IBCLC ini juga ditekankan bahwa donor ASI adalah alternatif terakhir bila semua prosedur menyusui di rumah sakit (RS) telah dilakukan dan ASI tetap tidak dapat disediakan oleh ibu dari bayi yang bersangkutan. Donor ASI harus mengikuti prosedur skrining gaya hidup, dan skrining darah yang dilakukan terhadap penyakit-penyakit hepatitis B, hepaitis C, HIV, sifilis dan CMV (bila hendak diberikan pada bayi pematur). Pembahasan  tentang donor ASI dilanjutkan pada breakfast seminar yang disampaikan oleh dr. Roslina Dewi Roeslani, SpAK yang mengambil tema “Breastfeeding in premature baby. Donor ASI yang banyak dibicarakan masyarakat, khususnya ibu menyusui, jelas diperlukan rambu yang benar untuk kesehatan dan keselamatan bayi yang diberi ASI donor.

Hari kedua workshop breasfeeding yang dipandu course director dr. Elizabeth Yohmi, SpA, IBCLC tetap ramai diminati peserta PIT IKA V IDAI. Dua dokter anak, yaitu dr. Utami Rusli, SpA.IBCLC dan dr. I.G.A.N Partiwi, SpA, MARS  membahas tentang implikasi dari 10 langkah untuk sukses menyusui dengan cara cukup unik, sehingga 40 peserta workshop tampak aktif semuanya dan berebut mengeluarkan pendapat mengapa program menyusui yang harusnya dengan 10 Langkah Keberhasilan Menyusui yang dikeluarkan oleh WHO tetap tersendat di tempat pelayanan RS dimana mereka bekerja. Undang undang Kesehatan No. 33 tahun 2012 juga sekaligus didiskusikan dalam sesi itu.

Pada sesi kedua, dr. Yohmi membahas tentang menyusui pada ibu bekerja. Seperti pada hari pertama, setiap sesi dibuka dengan diskusi kelompok yang dipandu oleh 1 fasilitator pada setiap 10 peserta. Dengan cara itu workshop breastfeeding kali ini tampak lebih menghidupkan peran serta semua peserta. Setiap akhir sesi, peserta mendapat take home message sehingga semua peserta mendapat “rangkuman” dari hasil diskusi sesuai pembahasan yang diberikan.

Pembahasan ketiga adalah tentang komplementer makanan padat pada bayi ASI eksklusif yang dibahas oleh dr. Titis Prawitasari, SpAK dari UKK nutrisi dan penyakit metabolik. Pada pembahasan ini ditekankan pentingnya makanan pendamping ASI yang dalam masyarakat sering kali kurang diperhatikan komposisi, konsistensi dan sumber-sumber nutrisi yang penting pada bayi-bayi ASI. Sumber zat besi dan zinc adalah contoh mikronutrien yang harus mendapat perhatian pada bayi-bayi ASI agar mereka dapat tumbuh dengan baik.

Selama dua hari workshop, peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok lebih banyak aktif berdiskusi dengan sesama rekan sejawat, saling berbagi pengalaman dan menyampaikannya ke forum. Pengalaman dari masing-masing kelompok peserta menambah wawasan peserta dari kelompok lain, termasuk bila ada kendala yang harus dihadapi.

"Workshop ASI di PIT Bandung ini luar biasa, dengan metode yang unik dan tepat sasaran. Dengan interaktif dan diskusi dua arah membuat workshop ini lebih mudah dipahami, dan harus terus dikembangkan untuk masa mendatang," komentar dr. Indrayanti, SpA dari Batam.

Sementara menurut dr. Piprim B. Yanuarso, SpAK dari Jakarta, "Para dokter mesti ikut pelatihan breastfeeding, deh. Saya tadinya mengira bahwa menyusui itu sederhana. Semua dokter pasti tahu. Eh, ternyata banyak juga ilmu per-ASI-an yang belum saya ketahui. Mungkin juga teman-teman sejawat lain belum tahu. Misalnya: mengajarkan memerah ASI sedini mungkin, cara menyimpan ASI perah, mengevaluasi kecukupan ASI, dan lain-lain. Ternyata semua itu ada ilmunya. Kalau dokter-dokter paham akan hal ini, maka mereka juga pasti mendukung pemberian ASI eksklusif untuk bayi di Indonesia."

Workshop breastfeeding diakhiri dengan tampilnya dr. Utami yang membacakan pusinya berjudul "Malaikat". Tak sedikit dokter anak yang hadir meneteskan air mata, tersentuh puisi dr. Utami.

ASI tetap tak terkalahkan

Breastfeeding in Critical Period of Child. Itulah tema scientific programme: breastfeeding yang digelar pada tanggal 15 Oktober 2012. Sebagai pembicara pertama, dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpAK mempresentasikan "How Breastfeeding Builds Brighter Brain". Sejumlah penelitian tentang kaitan ASI dengan kecerdasan dipaparkan dr. Yoni, panggilan akrab dr. Hardiono. Menurut Ketua Badan Pengurus KAMAS (Koperasi Anak Mandiri Sejahtera) PP IDAI ini, tidak ada yang mengalahkan kehebatan ASI sebagai makanan bayi, karena kandungan gizinya dan proses pemberian ASI, namun para dokter juga tidak boleh menutupi kekurangan ASI hasil riset para ahli dari Barat. "Karena yang lebih penting adalah bagaimana kita mencari solusi kekurangan ASI tersebut untuk kebaikan ASI," ujar dr. Yoni di akhir presentasinya.

Selanjutnya, dr. Ahmad Suryawan, SpAK dalam presentasinya "The Quality of General Movements in Breasfted Infants" menyatakan bahwa penelitian menunjukkan, bayi-bayi yang disusui eksklusif lebih dari 3 bulan memiliki gerak motorik (general movements) yang normal 88% dibanding bayi yang mendapat ASI eksklusif kurang dari 3 bulan. "Dari evaluasi melalui rekaman video, diperoleh nilai general movements (GMs). Yang dinilai adalah kompleksitas, varuasi dan fluency. Riset membuktikan, dari penilaian GMs ini bisa diprediksi apakah anak akan mengalami cerebral palsy, ADHD (Attention Deficit-Hyperactivity Disorder), serta sebagai marker inteligensi anak di usia sekolah," jelas dr. Wawan, panggilan akrab dr. Ahmad Suryawan.

Salah satu keunggulan ASI juga terletak pada hormon-hormon yang terkandung di dalamnya, yang bila dikonsumsi bayi akan diteruskan ke otak. "Di sinilah pentingnya stimulasi orang tua, sehingga tumbuh kembang otak anak jadi optimal," ujar Prof. Dr. Soetjiningsih, SpAK, IBCLC yang membawakan presentasi "Breastfeeding for Optimal Growth and Development". Pada saat disusui, bayi berkesempatan bereksplorasi, misalnya bermain dengan payudara ibu. "Taktil bayi ASI terbukti lebih baik daripada bayi susu formula," sambung Prof. Soetji. Bahkan, saat proses laktasi terjadi mutual touch antara ibu dan bayinya. Ibu mengusap-usap dan memandang bayi penuh cinta, bayi pun menyentuh tubuh ibu dan memandangnya. "Dari sini bisa terdeteksi apakah anak mengalami autistik atau tidak, karena anak autistik tidak bisa kontak mata."

Pada sesi terakhir scientific programme breastfeeding PIT IKA V IDAI hari itu, dr. Yovita Ananta, SpA, IBCLC menjelaskan hasil riset di 17 cabang IDAI yang menunjukkan bahwa secara signifikan ibu tidak bekerja lebih banyak mempunyai kesempatan menyusui daripada ibu bekerja. "Saran kami, beri rekomendasi pemerintah untuk mengubah peraturan cuti melahirkan 3 bulan menjadi 6 bulan. Atau, kantor atau tempat bekerja harus menyediakan ruang memerah ASI yang memadai," ujar dr. Yovita.

Menanggapi hasil riset di 17 cabang IDAI tesebut, "Tantangan keberhasilan ibu menyusui di Aceh adalah masih banyaknya rumah sakit yang menyediakan susu formula untuk ibu melahirkan. Untuk mengatasi hal ini perlu aturan pemerintah daerah tentang hal ini," ujar dr. Dora Darussalam, SpA dari Aceh pada kesempatan berbeda.

Serunya diskusi

Hampir semua acara yang berkaitan dengan ASI di PIT IKA V IDAI ini penuh diminati peserta. Acara tanya jawab dan diskusi pun berlangsung seru! Bahkan Guru Besar pun ikut bertanya dan berkomentar soal ASI.

Salah satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana dengan ibu remaja, apakah tetap dianjurkan menyusui bayinya? Ya, ibu remaja tetap dianjurkan menyusui bayinya, namun ibu tersebut harus diberi nutrisi tambahan karena dia masih dalam masa pertumbuhan.

Sementara dr. Piprim pada kesempatan terpisah berkomentar soal ASI kaitannya dengan imunisasi. Menurutnya, ASI mengandung imunoglobulin A yang berfungsi untuk kekebalan pada bayi. Namun kekebalan yang berasal dari ASI bersifat umum, non-spesifik, dan sifatnya pasif oleh karena itu bersifat temporer. Imunisasi itu merangsang kekebalan aktif dan spesifik. Dengan imunisasi, bayi dirangsang sistem imunitasnya agar kebal terhadap berbagai jenis penyakit yang berbahaya, menular, dan mematikan. Bukankah sudah terbukti bahwa bayi-bayi yang mendapat ASI eksklusif masih bisa terkena penyakit polio hingga lumpuh, difteri, pertusis, tetanus, dan sebagainya. Agar kebal terhadap penyakit-penyakit tersebut maka ikhtiarnya adalah memberikan imunisasi pada bayi, di samping ASI.

Dalam scientific programme: breasfeeding ini, Satgas ASI PP IDAI menegaskan kembali bahwa donor ASI tidak direkomendasi sebelum ada aturan tata laksananya. "Jadi, kami menganjurkan tenaga kesehatan untuk maksimal memberi bantuan pada ibu bagaimana menangani masalah menyusui yang dialami, sehingga ibu tersebut dapat menyusui bayinya sendiri. Mengonsumsi ASI donor adalah pilihan terakhir yang sudah harus terpenuhi persyaratannya," ujar dr. I.G.A.N Partiwi, SpA, MARS, Ketua Satgas ASI PP IDAI yang pada acara scientific programme: breastfeeding menjadi moderator.

Artikel Terkait

ARTIKEL TERBARU

Ketika Harus Memberi ASI Perah

Komitmen ibu memberikan nutrisi terbaik bagi bayi, yaitu ASI eksklusif, dapat tetap dilakukan saat ibu harus kembali bekerja. ASI perah solusi tepat.

Berapa Lama ASI Perah Dapat Digunakan?

ASI perah memiliki tenggang waktu untuk digunakan, tergantung pada cara penyimpanannya.

Manajemen ASI Perah

ASI perah yang disimpan sebaiknya diberi label tanggal ASI diperah, agar dapat digunakan lebih dulu.