Bayi Juga Perlu Bermain

 

Itulah suasana acara Parenting Class bertema “Yuk, Ajak Bayi Bermain” yang disampaikan oleh Rini Hildayani, M.Si, psikolog yang juga praktisi theraplay, dan dr. I.G.A.N Partiwi, Sp.A, MARS yang akrab disapa dr. Tiwi. Hari Sabtu pagi, 2 Februari 2013, yang sempat diwarnai hujan tersebut menjadi ceria berkat celoteh bayi-bayi di Auditorium RSU Bunda Menteng, Jakarta.

Pekerjaan bayi: bermain

“Siapa bilang bayi tidak punya pekerjaan? Salah satu pekerjaannya adalah bermain,” ungkap Rini Hildayani. Staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini pun kemudian menjelaskan bahwa kegiatan bermain merupakan salah satu bentuk pengasuhan yang alamiah.

Ada beberapa bentuk bermain pada bayi, yaitu:

  • Bermain sensorimotor:dimulai dengan penemuan yang tidak sengaja dari kegiatan yang menyenangkan. Terdiri dari pengulangan yang berkelanjutan dari kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan dan dimulai dari hal-hal yang ada di seputar diri dan berlanjut ke hal-hal yang berada di luar diri anak.
  • Bermain dengan objek: yang dapat menstimulasi indera, mengandalkan koordinasi mata-tangan, dan berespons terhadap perilaku anak. Contohnya, bermain remas spons atau meraba objek dengan berbagai tekstur.
  • Bermain pura-pura atau simbolik: anak senang menjadikan dirinya sebagai fokus, dan menggunakan objek pengganti yang mirip dengan objek sebenarnya dengan cara yang tepat, seperti main mobil-mobilan.
  • Bermain sosial dan nonsosial: bayi yang usianya masih kecil umumnya lebih dominan bermain nonsosial. Mereka umumnya senang mengamati hal-hal yang ada di sekelilingnya, mengamati orang lain bermain, atau bermain sendiri.

Mengembangkan aspek fisik motorik, mental, dan sosial-emosi adalah manfaat yang bisa didapatkan bayi lewat bermain. Bermain tenis bola, misalnya, anak jadi aktif bergerak, berusaha melempar bola dengan baik, serta merasa senangbermain bersama ayahdan ibunya. Bermain juga mengembangkan attachment, yaitu ikatan emosional yang bertahan, yang ditandai oleh kecenderungan untuk mencari dan memelihara kedekatan dengan orang tertentu, khususnya saat berada dalam situasi menekan.

Lalu, bagaimana mengembangkan attachment lewat kegiatan bermain bersama bayi? “Orang tua harus terlibat sepenuhnya dalam kegiatan bermain, tidak hanyamenyediakan objek untuk kegiatan bermain, tetapijuga terikat dalam kegiatan ini. Bahkan, orang tua sebaiknya menjadi objek bermain bagi anaknya yang masih bayi,” ungkap Rini yang disela-sela penjelasannya juga mengajak orang tua turun dari tempat duduk dan bermain bersama bayi.

Dalam kegiatan bermain, orang tua perlu membuat batasan-batasan untuk menjamin keamanan dan keselamatan bayi serta membantu bayi memahami lingkungannya, seperti permainan menggambar kaki dan tangan bayi. Orang tua juga perlu menciptakan tantangan untuk bayi agar ia mampu maju selangkah ke depan, menguasai pengalaman yang menegangkan, dan meningkatkan perasaan kompeten, seperti pada permainan lomba merangkak.

Rini juga mengingatkan bahwa kegiatan bermain meliputi berbagai kegiatan pengasuhan, seperti menyuapi anak, menimang, menenangkan, dan memeluk bayi kapanpun bayi membutuhkan. Orang tua juga perlu menyediakan kontak fisik untuk bayi, seperti membelai dan mengusapnya. Pada saat ini orang tua dapat mengecek fisik bayi seperti bila ada gigitan nyamuk, ada luka, dan sebagainya.

Bermain, menstimulasi otak

Bukan cuma merasa senang, bermain juga mengembangkan tumbuh kembang otak anak, khususnya bayi. Otak terbentuk berkesinambungan sepanjang waktu dan substansi dasarnya dirancang selama masa awal kehidupannya. “Ketika bayi bermain, berinteraksi dengan orang tua dan/atau pengasuhnya, maka interaksi antara genetik dan pengalaman dini akan menentukan tatanan arsitektur otaknya yang sedang berkembang dalam suasana memberi dan menerima secara alamiah,” ujar dr. Tiwi membuka presentasinya.

Orang tua yang sering mengapresiasi apa yang dikatakan bayi, misalnya, maka bayi akan memiliki perkembangan bicara yang baik. “Karena itu, libatkan semua aspek yang dapat diterima panca indera anak di usia dini,” sambung dr. Tiwi. Misalnya, bayi baru lahir mempunyai penglihatan terbatas namun dia sudah dapat mengingat yang dilihat dan menyenangi wajah. Jadi, biarkan bayi bermain dan mengeksplorasi dengan wajah orang tua. Permainan semacam ini akan menstimulasi otak, karena bayi belajar dengan cara melihat dan meniru.

Orang tua memang perlu menciptakan situasi yang kondusif untuk tumbuh kembang anak di usia dini, termasuk aktivitas bermain. Karena, stres yang bersifat toksik di awal kehidupananak mempunyai efek yang persisten pada susunan saraf pusat dan sistem hormonal. Kondisi yang kondusif untuk tumbuh kembangmerupakan langkah yang lebih efektif dan murah dibandingkan mengatasi berbagai masalah perkembangan anak di usia yang lebih tua.Jadi, yuk, ajak bayi kita bermain!

Artikel Terkait

ARTIKEL TERBARU

Ketika Harus Memberi ASI Perah

Komitmen ibu memberikan nutrisi terbaik bagi bayi, yaitu ASI eksklusif, dapat tetap dilakukan saat ibu harus kembali bekerja. ASI perah solusi tepat.

Berapa Lama ASI Perah Dapat Digunakan?

ASI perah memiliki tenggang waktu untuk digunakan, tergantung pada cara penyimpanannya.

Manajemen ASI Perah

ASI perah yang disimpan sebaiknya diberi label tanggal ASI diperah, agar dapat digunakan lebih dulu.